Selasa, 18 Oktober 2011

Kau Bukan Hujan Terakhir Dimusim Ini

Aku bukan bagian terindah dari sajak-sajak cinta yang dinyanyikan bunga untuk kupu-kupu
Aku bukan detak alunan gerimis saat mendung mencumbu ujung senja.
Aku hanyalah dingin, dan ilalang pun tak sudi menatapku.

Aku ingin menangis bersama hujan, tercacah rintik gerimis dan terbakar terik mentari, untuk sebatas menunjukkan indahnya warna pelangi padamu.
Aku hanya ingin melantunkan nyanyian sepi yang tak tersampaikan oleh awan mendung kepada langit biru. menyampaikan nyanyian malam, kepada kelam yang selalu terdiam. meski ku tau, laguku tak bersajak, dan melodiku telah pergi.
Atau.. haruskah kusayat urat nadiku, agar kau sudi berpaling sedikit saja?

Tidak cinta, kau bukan hujan terakhir di musim ini,
Meski ku akui, kau lah yang terderas.
Kau bukan mentari terakhir di kisah ini, meski tanpamu langit membeku.
Kau pelengkap nada di kala melodi rindu mulai beralun.

Meski aku memikirkanmu lebih banyak dari jumlah tarikan nafas yang kuhela.
Dan meski kau memikirkanku, seperti bagaimana kupu-kupu memikirkan kepompongnya.
Mungkin lebih baik aku berhenti terbang, daripada ku terjatuh terlalu dalam.. pada malam yang tak pernah berujung pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar